Saffron (Crocus sativus) sebagai Alternatif Obat Depresi

Depresi adalah gangguan kesehatan jiwa yang ditandai dengan adanya perasaan merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, kehilangan energi dan minat, mengalami hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh diri. Diperkirakan pada tahun 2020, depresi akan menjadi penyebab utama disabilitas setelah penyakit kardiovaskular. Pengobatan yang tersedia saat ini bagi penderita depresi yaitu penggunaan antidepresan. Semua antidepresan dapat menimbulkan efek samping, sebagai contoh pada beberapa pasien yang meminum obat golongan Selective Serotonine Reuptake Inhibitor (SSRIs) akan mengalami gejala gelisah, mual dan muntah sebelum adanya perbaikan gejala. Oleh karena itu, penggunaan obat herbal dipercaya lebih aman dan memilki efek samping yang lebih minimal, serta dianggap sebagai alternatif yang valid untuk pengobatan depresi.

Lebih dari 20 obat herbal telah diteliti sebagai antidepresan yang potensial. Saffron (Crocus sativus) merupakan salah satu obat herbal yang memilki sifat anti kanker, antioksidan, anti inflamasi, dan antiplatelet dan pada beberapa penelitian telah digunakan untuk mengobati pasien depresi. Saffron (Crocus sativus) merupakan salah satu obat herbal yang di ekstraksi dari stigma (kepala putik) tanaman genus Crocus yang termasuk ke dalam famili Iridaceae.
Tanaman ini dibudidayakan di beberapa negara, seperti Azerbaijan, Cina, Prancis, Yunani, Mesir, India, Iran, Italia, Meksiko, Maroko, Spanyol, dan Turki. Berat satu stigma saffron sekitar 2 mg dan setiap bunga memiliki tiga stigmata. Saffron memilki warna, rasa dan aroma yang berbeda, biasanya digunakan sebagai penyedap makanan, pewarna makanan, dan sebagai parfum.

Stigma saffron juga digunakan pada pengobatan tradisional sebagai obat antispasmodik, ekspektoran, obat penenang, obat pada gangguan menstruasi, masalah persalinan, inflamasi, muntah dan penyakit tenggorokan. Berdasarkan penelitian pada pasien depresi, Saffron dapat meningkatkan kerja dari neurotrasmitter, seperti meningkatkan kadar serotonin, menghambat reuptake serotonin pada sinapsis. Mekanisme kerja ini akan mengontrol regulasi afek, agresi, tidur dan nafsu makan. Selain mempengaruhi aktivitas serotonin, Saffron juga berperan dalam modulasi aksis HPA (Hypothalamus Pituitary Adrenal) dan memberikan efek neuroprotektif.

Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa Saffron (Crocus sativus) menunjukkan efektivitas dan efikasi yang sama dengan antidepresan. Konsumsi saffron secara rutin setiap hari dengan cara direbus dengan dosis 1,5g/hari tidak ditemukan adanya efek samping. Dengan begitu, Saffron dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan pasien depresi yang tepat dan lebih aman.

Referensi :

  • Jasmadi, R.N., 2019. Saffron (Crocus sativus) Sebagai Alternatif Obat Anti Depresi. Open Jurnal System Vol.5 No. 2
  • Kermani T, Mousavi SH, Shemshian M, et al. Saffron supplements modulate serum pro-oxidant-antioxidant balance inpatients with metabolic syndrome: a randomized, placebo-controlled clinical trial. Avicenna J Phytomed. 2015;5(5):427–433.
  • Wang Y, Han T, Zhu Y, et al. Antidepressant properties of bioactive fractions from the extract of Crocus sativus L. J Nat Med. 2010; 64 (1):24–30.

Komentar

  • Kirim Komentar