Jamu merupakan minuman khas Indonesia yang memiliki banyak manfaat dibidang kesehatan. Jamu dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan herbal dan dalam upaya pencegahan dari suatu penyakit. Jamu sering dibuat dari daun, akar, dan batang aneka tanaman khas Indonesia. Jenis jamu pun beragam variasi rasa dan khasiatnya. Tapi dikalangan generasi muda (kaum milenial) jamu kerap disebut sebagai minuman pahit, bau, dan khas nenek kakek. Jika dulu kita lebih sering mendapati jamu dikemas dalam bentuk botol-botol besar yang diletakkan dalam bakul dan cara meminumnya harus menggunakan gelas, maka sekarang mulai bermunculan inovasi terkait kemasan jamu yang tentunya lebih modern. Salah satunya yaitu jamu dalam kemasan botol siap minum atau jamu botolan. Jamu botolan merupakan suatu pengembangan kemasan produk jamu yang didesain sedemikian rupa agar lebih menarik khususnya dikalangan generasi muda.

Berbagai macam jenis jamu dapat dikemas dalam botol termasuk salah satunya yaitu jamu kunyit asam. Jamu kunyit asam terdiri dari campuran rimpang kunyit (Curcuma domestica Val) dan buah asam jawa (Tamarindus indica Linn). Campuran tersebut membuat jamu kunyit asam memiliki berbagai manfaat dalam kesehatan diantaranya sebagai antibakteri (Chan dkk, 2011) dan antioksidan (Navarro dkk, 2002). Di kalangan masyarakat jamu kunyit asam sering digunakan untuk mengatasi nyeri haid (Soedibyo, 1998). Manfaat tersebut didapat dari senyawa kurkumin yang terkandung pada rimpang kunyit yang berfungsi sebagai penghilang nyeri (Bone, 2000). Menurut Stankovic (2004) komponen kurkumin relatif stabil pada suasana asam, sehingga buah asam jawa juga digunakan karena mengandung asam tartrat, asam malat dan asam sitrat untuk menstabilkan senyawa kurkumin (Soedibyo, 1998).

Penggunaan jamu kunyit asam berbeda-beda, tergantung ingin dimanfaatkan sebagi apa. Misal, jika digunakan para wanita untuk mengatasi nyeri haid maka jamu tersebut dapat dikonsumsi dua kali sehari selama haid. Namun, jika untuk penggunaan lain misal dalam pengobatan radang dan gangguan pencernaan makan jamu tersebut cukup diminum 2 kali sehari dan konsumsinya dihentikan saat radang dan gangguan pencernaannya sudah hilang. Jika jamu yang dikonsumi merupakan jamu botolan maka penggunaannya cukup 1 botol perhari dengan frekuensi penggunaan 2 kali dalam sehari. Dimana jika setengah botol sudah dikonsumsi pada pagi atau siang hari, setengahnya yang tersisa bisa disimpan di kulkas dan dikonsumsi lagi pada sore atau malam harinya.

Sangat penting untuk memperhatikan bagaimana aturan mengkonsumsi jamu yang biasanya sudah tertera pada label kemasan, karena penggunaan jamu yang berlebihan atau tidak sesuai dengan aturan dapat membahayakan tubuh. Sebagai generasi muda yang hidup ditengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sudah seharusnya kita menjadi pengkonsumsi jamu yang cerdas dengan memperhatikan aturan penggunaannya. Mari kita lakukan gerakan perubahan untuk selalu menjaga kualitas kesehatan menggunakan kekayaan alam Indonesia dengan gerakan minum jamu secara rutin sesuai dengan aturan penggunaannya.

Referensi:

  • Bone, K. dan Mills, S. 2000. Principles and Practice of Phytotherapy. 569. 571. Churchill Livingstone: New York.
  • Chan, E. W.C. Voon Pei Ng, Vi Vian Tan, Yin Yin Low. 2011. Antioxidant and Antibacterial Properties of Alpinia galanga, Curcuma longa, and Etlingera elatior (Zingiberaceae).  Pharmacognosy Journal, 3.
  • Navarro DF, de Souza MM, Neto RA, Golin V, Niero R, Yunes RA, Delle MF and Cechinel  FV. 2002. Phytochemical analysis and analgesic properties of Curcuma zedoaria   grown in Brazil. Phytomedicine, 9 (5) : 27-432.
  • Soedibyo, M. 1998. Alam Sumber Kesehatan Manfaat dan Kegunaan. 230-231. Balai Pustaka: Jakarta.
  • Stankovic, I. 2004. Curcumin. Chemical and Technical Assessment (CTA). FAO. 61st JECFA. P 1-8.