Pengertian jamu dalam Permenkes No. 003/Menkes/Per/I/2010 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan serian (generik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Kata jamu sendiri berasal dari kata jampi (dalam krama Jawa kuno) yang berarti ramuan ajaib.

Jampi-jampi berarti mantera oleh dukun, sedangkan kata menjampi berarti menyembuhkan dengan magis atau mantera. Pada masa pemerintahan kerajaan Mataram penyelenggaraan pelayanan kesehatan tidak dilakukan sampai pelosok desa dikarenakan sistem transportasi belum maju seperti zaman sekarang. Pusat kesehatan milik kerajaan berkedudukan di ibukota kerajaan. Praktik-praktik pengobatan yang dilakukan sebagian besar menggunakan ramuan (jamu), dan lainnya menggunakan ilmu kebatinan serta ada yang menggabungkan kedua cara tersebut. Selain bukti yang tertera pada artefak Cobek dan Ulekan, ditemukan juga bukti-bukti lain seperti alat-alat pembuatan jamu di daerah Yogyakarta dan Surakarta, tepatnya di Candi Borobudur pada relief Karmawipangga, Candi Prambanan, Candi Brambang, dan beberapa lokasi lainnya. Konon, rahasia kesehatan dan kesaktian para pendekar dan petinggi-petinggi kerajaan berasal dari latihan dan bantuan dari ramuan herbal.

Masyarakat yang tinggal jauh dari rumah orang pintar tersebut, tentunya mengalami kesulitan untuk pergi berobat jika sedang menderita sakit. Keadaan ini mendorong berkembangnya budaya membuat jamu. Selanjutnya, dikarenakan tenaga laki-laki lebih diperlukan untuk usaha pertanian, penjualan jamu lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan yang sering disebut sebagai mbok jamu. Penjualan jenis dan jumlah jamu gendong sangat bervariasi untuk setiap penjaja. Hal tersebut bergantung pada kebiasaan yang mereka pelajari dari pengalaman tentang jamu apa yang diminati serta pesanan yang diminta oleh pelanggan. Setiap hari jumlah dan jenis jamu yang dijajakan tidak selalu sama, tergantung kebiasaan dan kebutuhan pelanggan. Beberapa jenis jamu yang dapat dijumpai penjaja jamu diantaranya beras kencur, cabe puyang, kudu laos, kunci siruh, uyup-uyup atau gepyokan, kunir asam, pahitan dan sinom.

Meskipun tidak semua jamu telah teruji secara saintifikasi, namun khasiat jamu telah terbukti secara turun-temurun dari zaman kerajaan hingga saat ini. Sehingga kedepannya diharapkan budaya mengkonsumsi jamu dapat terus terjaga keberlangsungannya.

Referensi :