Virus corona atau Covid-19 yang sedang mewabah di Indonesia sejak awal Maret 2020 membuat masyarakat mulai berusaha mencari upaya pencegahan dengan memanfaatkan ramuan tradisional. Banyak masyarakat yang memburu jamu dan empon-empon, khususnya kunyit, temulawak dan jahe untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Akibatnya ketiga rimpang tersebut kemudian menjadi langka dan mahal.

Jahe mengandung senyawa fenolik dan asam organik yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Wulandari, 2009). Sedangkan kunyit dan temulawak memiliki kandungan curcumin yang saat ini dikenal dapat mencegah terjangkitnya Covid-19. Curcumin adalah senyawa tunggal yang termasuk dalam golongan polifenol. Selain dalam kunyi dan temulawak, curcumin juga terkandung dalam beberapa rimpang spesies Curcuma dari family Zingiberaceae. Bermacam khasiat dari curcumin ditunjukan dari berbagai penelitian, mulai dari sebagai antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, antikanker, penurun gula darah sampai dengan sebagai imunomodulator.

Hasil riset Bioinformatika yang dirilis pada bulan Maret 2020 membuktikan bahwa curcumin mampu berikatan dengan reseptor protein SARS-Cov-2 (nama dari virus jenis Corona yang ditetapkan oleh WHO). Ikatan reseptor protein tersebut melalui ikatan dengan domain protease (6Lu7) dan spike glikoprotein yang memiliki potensi untuk menghambat aktivitas Covid-19. Selain itu, curcumin diketahui dapat menghambat pelepasan senyawa tubuh penyebab peradangan atau sitokin proinflamasi, seperti interleukin-1(IL-1), interleukin-6 (IL-6) dan tumor nekrosis factor-α (TNF-α). Pelepasan sitokin dalam jumlah yang banyak disebut sebagai badai sitokin dan dapat mengakibatkan tertumpuknya sitokin pada paru-paru sehingga kemudian menimbulkan sesak nafas (Sordillo and Helson, 2015). Dan curcumin juga memiliki efek menghambat proses pertumbuhan virus, baik secara langsung maupun tidak langsung. Curcumin secara langsung dapat merusak fisik dari virus dan secara tidak langsung dapat menekan jalur sinyal seluler dalam proses replikasi virus (Mathieu and Hsu, 2018).

Perlu diketahui bahwa curcumin ini tidak semerta sebagai senyawa tunggal dari ramuan kunyit dan temulawak, melainkan masih banyak senyawa kimia lain dengan efek yang beragam. Namun dalam saintifikasi jamu dan di Rumah Riset Jamu Hortus Medicus Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, ramuan temulawak, kunyit, dan meniran merupakan ramuan yang digunakan untuk meningkatkan kebugaran. Pada uji pre pos pada tahun 2017, ramuan ini terbukti dapat membantu meningkatkan kebugaran jantung dan dapat meningkatkan kualitas hidup serta menunjukkan keamanan pada darah, hati dan ginjal.

Dengan demikian,  penggunaan kunyit dan temulawak sebagai pencegahan agar tidak terjangkit Covid-19 sangat relevan dengan beberapa penelitian baik pra klinik maupun klinik yang terbukti memiliki efek imunomodulator. Oleh sebab itu, masyarakat dapat dengan tenang dan nyaman untuk mengkonsumsi rebusan ramuan kunyit dan temulawak untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.

Referensi:

  • Badan Litbangkes RI, 2020, Curcumin, Aman Dikonsumsi Saat Pandemi Covid-19, https://www.litbang.kemkes.go.id/curcumin-aman-dikonsumsi-saat-pandemi-covid-19/, Diakses pada 27 Maret 2020.
  • Mathew D., Hsu WL., 2018, Antiviral Potential of Curcumin, Journal of Functional Foods, 2018;40: 692–699.
  • Sordillo PP., Helson L., 2015, Curcumin and Cancer Stem Cells: Curcumin Has Asymmetrical Effects on Cancer and Normal Stem Cells, Anticancer Res.
  • Wulandari, Y.W. 2009. Karakteristik Minyak Atsiri Beberapa Varietas Jahe (Zingiber officinale). Jurnal Kimia dan Teknologi. 43-50.